Jalan Pulang Punk Boys Kembali Mencari Tuhan

Jakarta, CNN Indonesia

Doy (32) masih ingat caranya ayah dan ibu berjuang sampai itu terjadi mengalahkan puluhan tahun yang lalu. Doy, yang saat itu baru berusia lima tahun, tak berdaya setiap kali kekerasan menimpa rumah tangga orang tuanya.

“Bak buk, buk,” sebuah suara yang familiar terdengar di telinganya. Dari balik pintu kamarnya, Doy kerap melihat aksi kekerasan tersebut. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya. Dia hanya bisa menangis.

Tahun demi tahun Doy selalu disuguhi adegan kekerasan di rumahnya. Tidak pernah damai. Doy terpaksa hidup dalam bayang-bayang traumatis kekerasan yang terjadi di keluarganya. Ingatannya kuat merekam kejadian itu. Rumah tidak bisa lagi menjadi tempat berteduh. Hingga akhirnya, Doy menemukan jalan keluar dari keluarganya yang hancur.

Matahari tepat di atas kepala, Doy yang berusia 15 tahun bertemu dengan seorang teman yang juga tetangganya. Doy mengundangnya ke sebuah pertemuan, tempat di mana kaum muda mencari kesenangan dengan kedok kebebasan. Ia juga mengonsumsi alkohol dan obat-obatan.

Di bawah jembatan Ampera, Palembang, Sumatera Selatan, Doy melampiaskan berbagai keluhannya. Temui sekelompok orang yang memberi nama grup punk, seorang pecinta musik punk, yang berhasil mengisi kekosongan dalam hidup Doy. Kebersamaan yang tak pernah ia rasakan di keluarganya, kini bisa ia rasakan di sini.

“Di punk, suasana kebersamaan lebih dekat,” kata Doy saat ditemui CNNIndonesia.com.

Dia tinggal di jalanan. Alkohol menjadi teman sehari-harinya. Hingga suatu hari Doy bentrok dengan salah satu preman. Hampir saja, Doy dan teman-temannya kehilangan nyawa.




Foto: CNN Indonesia/Lina Itafiana
Punk Boys di Pondok Sufisme Bawah Tanah

Berangkat dari kejadian di tahun 2019, Doy yang saat itu berusia 29 tahun memutuskan untuk pindah ke Jakarta. Di sinilah ia bertemu dengan Ustad Halim Ambiya. Sosok yang menggagas Pondok Tasawuf Bawah Tanah.

Pertemuannya dengan Ustad Halim di bawah jembatan di kawasan Tebet menjadi awal migrasi Doy ke kehidupan baru dengan berserah diri kepada Tuhan. Pondok Tasawuf Bawah Tanah menjadi tempat penampungan anak-anak Punk yang selama ini memiliki stigma buruk dalam mengatur kehidupannya. Ada 15-20 anak yang “menyukai” di sana.

“Saya putus fokus belajar mengaji, lelah hidup di jalan dari kecil ke besar. Aku juga berfikir, Tidak mungkin istri atau anak saya akan membawa saya ke jalan,” katanya sambil membenarkan kopiah yang bertengger di kepalanya.

Meski tubuhnya dipenuhi tato, hal itu tak menyurutkan Doy untuk terus bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Menurutnya, tato yang mewarnai tubuhnya cukup dijadikan sebagai kenangan masa lalu. Tidak perlu menghapus juga ditambahkan.

Doy menemukan keluarga keduanya di Pondok Tasawuf Bawah Tanah. Dia merasa damai dan nyaman. Perasaan yang tidak pernah dia alami selama bertahun-tahun.

Alkohol dan obat-obatan tidak lagi dalam hidupnya. Kini Doy disibukkan dengan aktivitasnya sebagai barista di sebuah kedai kopi yang merupakan salah satu lini bisnis Pondok Tasawuf Underground.

Kehidupan Doy di Jakarta perlahan membaik, bahkan kini ia kuliah di Universitas Pamulang.




Sebagai kelompok marginal, anak-anak punk jalanan terjebak dengan stigma negatif dalam sendi-sendi kehidupan sosial.  Tak jarang, keberadaan mereka malah dianggap mengganggu.  (CNN Indonesia/Adi Maulana)Foto: (CNN Indonesia/ Adi Maulana)
Sebagai kelompok marginal, anak-anak punk jalanan terjebak dengan stigma negatif dalam sendi-sendi kehidupan sosial. Tak jarang, keberadaan mereka malah dianggap mengganggu. (CNN Indonesia/Adi Maulana)

Mengaku telah diusir oleh ayahnya, Doy saat itu menanamkan tekad untuk menjadi orang sukses di masa depan. Mengetahui kehidupannya saat ini, orang tua Doy bangga dengan prestasinya.

“Orang tua campur aduk emosi, sedih, senang. Dulu saya dikucilkan masyarakat. Alhamdulillah, sekarang saya bisa menerima semua dari semua kalangan. Keluarga saya juga mengira saya tidak punya masa depan, sekarang responnya positif, ” dia berkata.

Berkaca pada kehidupan masa lalunya, nantinya ketika Doy memiliki keluarga ia ingin menanamkan pendidikan agama pada anak-anaknya sejak dini sebagai landasan dan pedoman dalam hidup.

(adalah n)

[Gambas:Video CNN]


Baca Juga :  Kantor Pemerintahan di Jalur Mudik Garut Jadi Tempat Istirahat Pemudik