Mitos Arah Kiblat Masjid Demak yang Sempat Diubah

Jakarta, CNN Indonesia

Masjid Agung Demak erat kaitannya dengan sosok para Walisongo yang merupakan penyebar agama Islam di Jawa sekitar abad ke-14 masehi. Masjid ini merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia yang dibangun oleh Raden Patah dari Kerajaan Demak yang merupakan kerajaan Islam pertama di pulau Jawa.

Pembangunan masjid ini tak lepas dari ikut campur Walisongo yang dimulai sekitar 1477 masehi. Namun ada sejumlah versi lain soal tanggal pembangunan masjid ini, seperti babad tanah jawi yang mengisyaratkan pembangunan masjid dimulai akhir 15 masehi.

Muhammad Khafid Kasri dalam bukunya ‘Sejarah Demak: Matahari Terbit di Glagahwangi’ (2008), menuliskan pembangunan masjid ini juga terjadi seiring riwayat Raden Patah dalam peperangan dengan pasukan Prabu Girindrawardhana dari Kediri yang sebelumnya berhasil menduduki Majapahit.

Raden Patah kemudian menyesali tindakannya karena terburu hawa nafsu menyerang tanpa mengukur kekuatan pasukan musuh. Akibatnya banyak korban yang gugur dari pihaknya, sehingga kemudian para wali menyarankan Raden Patah untuk melanjutkan membangun masjid Agung yang belum belum rampung sembari memikirkan strategi menghadapi musuh.

Raden Patah kemudian sepakat dan melanjutkan pembangunan masjid. Ia pun mensyaratkan bagian teratas masjid atau mustaka didesain dengan bentuk runcing yang mirip huruf arab satu. Permintaan itu dimaknai sebagai lambang kejantanan bahwa Demak berani menghadapi pasukan Majapahit di bawah kekuasaan Prabu Girindrawardana.

Mitos Arah Kiblat yang Sempat Diubah

Penentuan arah kiblat Masjid Agung Demak memiliki sejarah yang unik dan mistis. M. Hariwijaya dalam bukunya ‘Islam Kejawen’ (2006) menyebutkan bahwa Sunan Kalijaga dianggap sebagai ulama yang menentukan arah kiblat masjid Agung Demak pada masanya agar sesuai menghadap ke arah Ka’bah di Makkah.

Baca Juga :  Vanessa Khong Diduga Terima Aset Hingga Rp8,9 Miliar dari Indra Kenz

Disebutkan, saat sidang penentuan arah kiblat yang dipimpin Sunan Giri sempat memanas lantaran terjadi silang pendapat. Sunan Kalijaga kemudian berdiri menghadap ke selatan dan ia memegang mahkota Masjid Makkah di tangan kanannya dan mahkota Masjid Demak di tangan kiri lalu dipertemukan.

Disepakati bersama arah kiblat setelah mahkota dilepaskan. Ada pula mitos lain yang menyebutkan bahwa Sunan Kalijaga pernah naik pohon untuk melihat Ka’bah dan kemudian ia turun dan menyatakan bahwa arah masjid kiblat Demak telah persis lurus dengan Ka’bah.

Pada Juli 2010 silam, arah kiblat di Masjid Agung Demak sempat digeser usai terjadi pergeseran kiblat hingga 12 derajat. Pengubahan arah kiblat tersebut kemudian menuai kontroversi di kalangan para tokoh agama. Akhirnya pada dua tahun setelahnya, posisi arah kiblat dikembalikan ke tempat semula.

Arsitektur Masjid

Dinas Pariwisata Kabupaten Demak menyebut, dari sisi arsitektur, Masjid Agung Demak merupakan simbol arsitektur tradisional Indonesia yang khas serta memiliki sejumlah arti filosofis. Masjid ini juga masih memegang syarat sederhana namun terlihat megah.

Atap masjid berbentuk limas yang bersusun tiga merupakan gambaran akidah Islam yakni Iman, Islam, dan Ihsan. Masjid ini diklaim masjid dengan tipe tajug yaitu atap dengan model piramida, meskipun pada bangunan serambinya beratap limasan.

Empat tiang utama di dalam masjid yang disebut Saka Tatal atau Saka Guru dibuat langsung oleh Walisongo. Masing-masing di sebelah barat laut oleh Sunan Bonang, sebelah barat daya oleh Sunan Gunung Jati, sebelah tenggara oleh Sunan Apel.

Kemudian sebelah Timur Laut oleh Sunan Kalijaga dengan komponen tiang unik yang merupakan gabungan dari serpihan-serpihan kayu. Keempat tiang itu juga disebut soko guru atau tiang utama.

Baca Juga :  Jadwal Imsak dan Fajr Ramadhan 2022 di Papua




Foto: ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra
Pengurus masjid menunjukan pilar kayu penyangga masjid di Masjid Sapuro, Pekalongan, Jawa Tengah, Sabtu (17/4/2021). Menurut pengurus masjid, Masjid Jami Aulia atau Masjid Sapuro dibangun sekitar abad ke-16 oleh empat orang utusan Demak yaitu Kiai Maksum, Kiai Sulaiman, Kiai Lukman, dan Kiai Kudung dengan kayu-kayu bangunan masjid yang merupakan sisa pembangunan Masjid Agung Demak yang dibangun pada tahun 1479 Masehi. ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra

Selanjutnya, pintu Masjid Agung Demak yang dikenal dengan nama Pintu Bledheg diklaim mampu menahan petir. Pintu yang dibuat oleh Ki Ageng Selo juga merupakan prasasti Candra Sengkala yang berbunyi Nogo Mulat Sarira Wani, dengan makna yang menujukkan tahun 1388 Saka atau 1466 Masehi.

Menuju bagian luar, bagian teras Masjid Agung Demak ditopang oleh delapan buah tiang yang disebut Saka Majapahit.

Sejak pertama kali dibangun, masjid ini telah direnovasi sekitar satu kali pada tahun 1984. Nilai historis tinggi yang dimiliki oleh Masjid Agung Demak juga membuat masyarakat di sekitar masjid berupaya untuk terus menjunjung tinggi serta menjaga keaslian bangunan masjid tersebut baik dari artistiknya maupun arah kiblatnya.

(khr/isn)

[Gambas:Video CNN]