Video Pengunjung Bayar Rp100 Ribu ke Gumuk Pasir Viral di Media Sosial

Jakarta, CNN Indonesia

Sebuah video menampilkan keluhan seorang pengunjung akan mahalnya tarif masuk destinasi wisata Gumuk Pasir, Bantul, DIY, viral di sosial media.

Pengunjung tersebut merekam video percakapannya dengan seorang perempuan penjaga yang menarik tarif Rp100 ribu untuk masuk ke lokasi Gumuk Pasir.

Video milik akun Instagram dwiriyantoo itu pun viral usai diunggah ulang oleh berbagai akun sosial media.

“Sekarang nek misalkan arep ning Gumuk Pasir kon mbayar satus. Padahal kita kerep ndene dan membayar parkir, iki dikon mbayar satus (mau ke Gumuk Pasir disuruh bayar Rp100 ribu. Padahal kita sering ke sini, ini disuruh bayar Rp100 ribu),” kata si pembuat video.

Perempuan paruh baya tersebut mengklaim lokasi Gumuk Pasir yang didatangi pengunjung itu adalah milik pribadi dan dikelola sendiri.

“Soalnya lokasi yang ini punya pribadi punya hak milik. Kalau di sana Pasir milik Sultan Ground,” jawab perempuan itu.

“Ya terserah, kamu ya kalau mau monggo. Kalau anu sampean nawar ya nggak apa-apa,” timpal perempuan itu lagi.

Kepala Dinas Pariwisata Bantul Kwintarto Heru Prabowo menegaskan bahwa pemerintah tak pernah menarik tarif masuk bagi wisatawan yang hendak mengunjungi Gumuk Pasir.

Wisatawan yang hendak menuju Gumuk Pasir melalui Cemoro Sewu atau jalan penghubung Parangkusumo-Pantai Depok hanya dikenai tarif parkir standar oleh masyarakat selaku pengelola.

“Kalau Gumuk Pasir yang secara umum, di sisi selatan lah memang ada tarif di sana. Sekadar dari pengelola (masyarakat) ada untuk parkir atau jasa kebersihan. Kalau dari pemerintah nggak ada tarif seperti itu,” kata Heru saat dihubungi, Rabu (1/6).

Lebih lanjut, Heru mengklaim telah mengirimkan timnya untuk menemui perempuan dalam video viral itu, Selasa (31/5).

Baca Juga :  Napoleon Dijadwalkan Membacakan Pengecualian dalam Sidang Kasus Penganiayaan Kace

Heru berujar, yang bersangkutan tak menampik menarik tarif Rp100 ribu untuk masuk kepada pengunjung seperti dalam video yang beredar di sosial media.

“Ketika diklarifikasi di awal, tapi oleh pihak lain sebelum saya datang ke sana, itu kan biasanya dipakai prewed tempat itu. Sehingga kemarin menyodorkan angka itu (Rp100 ribu),” kata Heru.

Disinyalir lokasi yang didatangi pengunjung dalam video itu memang lahan milik pribadi. Secara logika, menurut Heru, perbukitan pasir bisa saja bergeser ke area warga karena terbawa angin.

“Kami memang tidak mengecek sampai ke bukti kepemilikannya (lahan). Tapi Gumuk Pasir itu kan berjalan, kena angin, geser. Sangat mungkin dulu di area itu yang dulunya tidak ada pasir puluhan tahun lalu, lalu di tahun-tahun terakhir ada pasir karena kan prosesnya lama. Bisa jadi itu memang ada pemiliknya, dalam pengertian letter C, lalu sudah ada pasirnya seolah-olah itu wilayah Gumuk Pasir,” paparnya.

Terlepas dari status lahan, pihaknya tetap menekankan agar pengelola wisata memajang tarif sesuai jenis kegiatan pengunjung jika memang objek itu dikelola secara pribadi. Termasuk memperbaiki pola komunikasi demi menghindari kesalahpahaman.

(kum/ain)

[Gambas:Video CNN]